Wawancara Lurah Pembuat Meja Anti Lapar

Wawancara Lurah Pembuat Meja Anti Lapar

Meja Anti Lapar

Muncul sederet kisah memilukan dari masyarakat yang kelaparan karena minimnya pendapatan.

Bahkan ada dari mereka yang nekat mencuri beras, sekadar untuk bisa makan di tengah pandemi Corona.

Di saat warga mengalami goncangan ekonomi akibat pandemi, seorang Kepala Desa Krandegan, Purworejo bernama Dwinanto membuatkan gebrakan.

Ia menyebut sebagai Pasar Bergerak dan Meja Anti Lapar

1. Program Anda mengatasi pencegahan Covid-19 banyak dilirik karena dinilai keren. Apa saja program-program itu? Bisa Jelaskan?

Yaitu kluster yang sifatnya kegiatan medis

Yang kedua kluster yang sifatnya di bidang pangan

Yang ketiga kluster yang masuk kategori sosial ekonomi.

Di kluster yang pertama kegiatan yang bersifat kesehatan atau medis

Kami alhamdulillah termasuk desa yang pertama mendirikan posko

untuk adanya desa siaga corona ini

Kami juga sudah membagi alat kesehatan kepada warga

baik berupa sabun, berupa ember, berupa alat alat masker dan kami juga sudah melakukan penyemprotan di rumah-rumah

Saya kira hal ini juga sudah dilakukan oleh beberapa atau bahkan hampir seluruh teman-teman di desa lainnya

Sementara kegiatan kami yang kedua di bidang ketahanan pangan adalah

Kami mencoba mengedukasi warga untuk kemudian mereka bisa memanfaatkan lingkungan disekitar mereka

Untuk ditamani tanaman pokok dan tanaman sayuran

Dengan harapan ketika suatu saat terjadi kelangkaan pangan, warga kami tidak merasa kesulitan

Kami membagi ke seluruh warga bibit bayam, bibit kangkung kemudian juga bibit jagung

Secara gratis untuk kemudian di tanam di lingkungan mereka

Yang ektiga adalah kegiatan yang kami lakukan dalam menangani dampak sosial ekonomi

Yang ini berimbas kepada hampir seuluruh lapisan masyarakat

Ada empat kluster kegiatan di bidang ini

Yang pertama adalah, bagi warga kami yang masuk kategori miskin akan tetapi masih bisa bekerja

Maka kami harapkan untuk ikut kegiatan Padat Karya Tunai.

Diantara kegiatannya adalah membersihkan jalan, membersihkan makam, memberikan saranan edukasi dst

Mereka juga dibayar dengan upah 55rb perhari

dengan harapan mereka masih bisa terus untuk membiayai kehidupan kelaurganya

sementara yang kedua adalah warga kami yang masuk dalam basis (warga) terbantu (menit ke 2.23)

Mereka yang masuk kategori miskin akan tetapi belum mendapatkan bantuan dari pemerintah berupa PKH dan BPMT atau bantuan lain

Maka mereka kami berikan bantuan yaitu melalui PLT yang kami anggarkan dari dana desa

Sebesar 600.000 selama tiga bulan, bulan April, bulan Mei, Bulan Juni

Dan saya kira ini juga sudah dilakukan di seluruh desa di Indonesia karena ini instruksi langsung.

2. Seperti apa mekanisme program yang disebut-sebut sebagai “pasar bergerak”? Konon melalui WA? Bagaimana jika yang tak tersentuh teknologi atau kurang mampu?

Jadi konsep kegiatan yang kami beri nama dengan Pasar Bergerak ini adalah

Dimana kami membantu warga, seluruh warga

Baik yang miskin, atau yang tidak miskin. Yang terdampak corona maupun tidak

Kita meringankan beban mereka dengan cara kita menjual sembako

Yang kita beli dari warung-warung sekitar kami

Untuk kemudian kita jual kembali ke warga dengan harga yang jauh dibawah harga pasar

Misalkan harga ayam yang hari ini di pasaran 25.000 kita jual 18.000

Harga beras yang 10.000 per kilo kita jual 6.000, Harg agula pasir yang perkilo 18.000 kita jual 15.000

Jadi konsepnya adalah kita meringankan warga dan kita memudahkan warga

Mereka tidak perlu datang ke pasar kami yang datang setiap hari

mengantar kebutuhan warga door to door dengan harga yang jauh lebih murah dari harga pasar.

3. Dengan harga-harga yang murah jauh dari harga pasar, apa pihak Pemerintah Desa tidak tombok?

Dengan model subsidi, otomatis kami harga jual dan harga belinya

Itu mengalami kalau opsi berat pedagang itu disebut rugi

Akan tetapi ini memang sengaja kami lakukan

karena kami niatkan untuk membantu atau meringankan beban masyarakat

yang saat ini secara sosial ekonomi terdampak oleh adanya pandemi corona

Misalkan untuk 1 kg ayam itu kita mensubsidi sampai 8000 rupiah per kilonya

Untuk beras kita mensubsidi 2500 sampai 3000

Kemudian ada juga dengan dana sembako yang lain

Dan dana dana ini kita carikan dana dari para donatur

Baik itu relasi, teman, kemudian warga kami yang di perantauan termasuk warga kami yang ada di Desa

Jadi konsepnya adalah dari warga untuk warga

Atau biasa kami menyebut dengan slogan connecting people

Menghubungkan antara yang butuh dibantu dengan yang membantu menghubungkan antara yang miskin dengan yang kaya.

4. Program-program Anda bermula dari mana atau terinspirasi dari siapa?

Program ini mungkin muncul di desa kami untuk yang pertama kali dibanding desa-desa yang lain ya

Karena ini memang hasil kami diskusi dengan teman-teman perangkat hasil masukan dari teman-teman perangkat

Kami setiap harinya berpikir bagaimana bisa meringankan warga kami akibat adanya pandemi corona ini

Kami sampaikan ke teman-teman saat ini tugas kita hanya dua

Pertama adalah menjauhkan sejauh mungkin warga kita dari corona

Yang kedua adalah menjamin tidak ada warga kita yang kelaparan tidak ada warga kita yang kesulitan makan

Dan ini setiap harinya kami evaluasi dengan teman-teman perangkat desa di kantor

Dimana kami briefing setiap hari jam setengah 9

untuk terus mengevaluasi dan memantau perkembangan-perkembangan terkini

terkait dengan kejadian-kejadian dan kondisi warga kami di lapangan.

5. Ada saran jika ada desa-desa lain ingin mencontoh program yang sama?

Kami berharap dengan kami share, kami upload, kami publikasikan kegiatan ini

Kami berharap teman-teman lain, di suatu desa

Marilah kita sama-sama bergerak untuk meringankan beban warga kita yang saat ini terdampak secara sosial ekonomi

Dan saya kira ini dampaknya merata bukan satu dua masyarakat bukan satu dua kelompok

Tapi dirasakan oleh semua lapisan masyarakat

Inilah saatnya kita berbagi inilah saatnya kita mengabdi

Melayani dan memberikan semaksimal mungkin apa yang kita mampu

untuk keselamatan dan kesehatan serta kesejahteraan warga kita

Leave a Reply