Pernikahan “New Normal” & Keluarga “New Normal”

Pernahkah terbayang pisah dari pasangan (suami/istri) lebih dari 3 bulan?
Oke, mungkin ada yang terpisah untuk sementara waktu selama 6 bulan, 12 bulan, atau bahkan 24 bulan. Ada istri yang terpisah dari suami saat suami studi di luar negeri selama 2 tahun, karena beasiswa minim. Tapi itu kondisi extraordinary. Bukan kondisi normal pada umumnya.
Ada yang suaminya baru pulang 3 atau 4 bulan sekali karena bekerja di pertambangan pedalaman yang sangat sulit dijangkau kendaraan. Boro-boro mobil. Sinyal saja susah. Tapi itu kondisi extraordinary, bukan kondisi normal pada umumnya.

Ada orangtua yang baru boleh menengok anak di pesantren dengan jadwal ketat 6 bulan sekali, atau bahkan 12 bulan sekali. Tapi tidak semua pesantren atau boarding school memberlakukan jadwal demikian.

Sekarang, sepertinya kita harus mulai merencanakan bahwa bertemu dengan anak-anak atau bertemu dengan istri/ suami, bisa jadi baru terealisasi berbulan-bulan kemudian. Sejak era pandemic, beberapa teman berkata tidak bertemu pasangan lebih dari 1 bulan. Bahkan ada yang sudah 4 bulan tidak bertemu.

Strategi apa yang bisa dilakukan bagi pernikahan dan keluarga “New Normal”agar keluarga kita tak berantakan akibat kehidupan yang tidak dapat diprediksi beberapa waktu ke depan? Finansial, edukasi, bahkan sekedar tatap muka saja menjadi sebuah abnormalitas. Keluarga yang stabil saja bisa berubah labil, apalagi yang sejak awal sudah menghadapi prahara. Bisa-bisa karam sebelum pandemic selesai!

🧕👳‍♂️1. Setiap keluarga harus memiliki guru spiritual yang memahami agama. Entah ustadz/ustadzah, dai/daiyah, Pak Kiai/ Bu Nyai. Buat apa? Ada banyak yang harus kita tanyakan. Misal, banyak pernikahan yang harus diselenggarakan lewat media online. Lalu, bagaimana solusi bagi suami istri yang tidak bisa bertemu lebih dari 3 bulan? Seorang yang faqih dalam agama akan membantu kita untuk memahami hal-hal haram halal, termasuk kondisi kedaruratan.

👩‍🏫👨‍🏫2. Setiap orangtua harus belajar menjadi guru. Ada anak-anak yang bisa disegerakan masuk sekolah ketika nanti jadwal tahun ajaran baru diberlakukan. Tapi ada anak-anak yang rentan secara fisik dan psikis, mungkin harus lebih lama di rumah. Homeschooling, kejar paket, dan pembelajaran sejenis akan menjadi pilihan yang masuk akal bagi orangtua.

💵💰3. Setiap anggota keluarga harus paham mengelola keuangan. Kondisi finansial setiap keluarga saat ini bukan berada dalam kurva normal. Perusahaan ambruk. Pabrik tutup, karyawan di-PHK. Kerjasama antar anggota keluarga sangat penting. Kalau tidak semua bisa menghasilkan uang, setidaknya setiap orang bisa meminimalisasi pengeluaran.
Misal, ketika dulu setiap kamar harus menggunakan AC, maka sekarang anak-anak perlu dikondisikan untuk menggunakan AC bergantian. Atau tidur bersama dalam satu ruang ber-AC di kamar ukuran paling besar, jika memungkinkan. Beberapa teman yang memiliki anak usia kuliah memutuskan untuk cuti dari kuliah dan membantu orangtuanya berbisnis demi mendapatkan pemasukan yang lebih stabil untuk keluarga.

✊💪4. Setiap anggota keluarga harus saling menguatkan satu sama lain. Saling memberikan kekuatan positif.
“Jangan lupa untuk Dhuha 4 rakaat,” si Abang mengingatkan saya dan adik2nya. “Aku pernah baca kalau Dhuha 4 rakaat, maka Allah akan menjamin rizqi kita hari itu.”
Sebuah afirmasi yang bagus bagi kami untuk lebih giat melakukan 4 rakaat daripada hanya sekedar 2 rakaat.
“Saya takut mati. Belum siap. Tiap hari bayang kematian itu begitu dekat,” ucap beberapa klien saya. Kondisi pandemic ini membuat setiap orang merasa maut mengintai. Bagus, jika itu akan meningkatkan kedekatan kita pada Tuhan. Buruk, bila yang meningkat adalah anxiety.
Suami saya tak kurang cemasnya. Meng-share berita tentang tingginya angka penderita Covid 19 di Jawa Timur, meng-share berita tentang teman-temannya yang berpulang karena sakit.
Siapapun cemas.
Siapapun tertekan saat ini.
Saya pun juga takut kematian, seperti anda!
Tapi saya tidak boleh menambahkan minyak ke dalam api.
“Hayo Mas, kita list siapa saja teman-teman kita yang masih sehat. Yang mau naik haji, yang berprestasi.”
Bisa jadi suatu saat saya yang terjebak kecemasan dan suamilah yang harus membesarkan hati saya. Ketahuilah, pikiran positif akan membuat sebuah kesengsaraan lebih lembut terasa. Ketika kita bilang , “insyaallah gak akan jatuh.” Lalu kita terjatuh, pikiran kita akan berkata bahwa itu hanyalah terpeleset kecil.

💗☪️💖5. Setiap keluarga harus memiliki waktu khusus untuk diskusi. Yang di rumah, harus menyempatkan untuk duduk melingkar bersama. Yang terpisah, harus meluangkan untuk zoom atau vidcall. Bahasan penting harus mulai dikaji, ditelaah, didiskusikan dengan kepala dingin. Dua anak kami seharusnya menyelesaikan studi tahun ini. Tetapi, segala kemungkinan bisa saja terjadi.
“Kalian harus siap ya, kalau ternyata studi kalian lebih lambat selesai.”

💑6. Setiap suami-istri harus berlatih dan memiliki skill komunikasi jarak jauh. Apa saja yang bagus untuk didiskusikan? Apa saja yang sebaiknya dihindari? Pembicaraan humor dan jokes harus lebih sering dilakukan. Hindari perbincangan yang memunculkan perdebatan sengit semisal pro kontra kebijakan PSBB. Haduh, copy darat saja bisa silang pendapat, apalagi kita berdebat lewat vidcall! Termasuk, kita mencoba berhati-hati ketika menyampaikan masalah keluarga.

❌“Anak-anak jadi sulit diatur sejak bapaknya jarang pulang,” misal istri mengeluhkan demikian.
Memang, anak yang lama tidak bertemu sosok ayah akan gelisah. Tapi bukan demikian kalimat yang seharusnya dipilih. Karena bisa jadi si suami sekaligus ayah, di seberang sedang rindu dan cemas dengan kondisi dirinya pribadi.

✅Kita bisa memilih :
“Ayah…ada gak kalimat semangat yang mau disampaikan untuk si Sulung? Dia lho sekarang yang jadi komandan di rumah.”
Maksud hati, kita akan menyampaikan : si Sulung ini berulah. Gak ngerti tanggung jawab. Gak ngerti taat pada orangtua dst! Tapi kita membahasakan dengan kalimat yang lebih positif.
Semoga setiap keluarga sukses melewati masa-masa penuh tantangan pandemic Covid 19!
Sinta Yudisia

stayathomemom #stayathomewife

Leave a Reply