Nikah Tanpa Mahar, Sahkah?

Mahar nikah merupakan hal yang perlu diperhatikan bagi mereka yang mau menikah. Dalam Islam, ulama sepakat bahwa mahar yang diberikan oleh (calon) suami dalam akad pernikahan merupakan suatu hal yang diwajibkan. Pemberian mahar merupakan satu diantara hak-hak istri atas suami.

Allah SWT berfirman: Berikanlah mahar/maskawin kepada wanita sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah pemberian itu yang sedap lagi baik akibatnya. (QS. An-Nisa: 4)

Secara tegas Allah mengatakan bahwa mahar itu merupakan hak milik sang istri. Mahar bukan milik suami atau walinya. Sebab, sebelum ayat ini diturunkan, bila ada seorang ayah menikahkan anak perempuannya, atau kakak laki-laki menikahkan adik perempuannya, maka mahar dari pernikahan tersebut diambil dan dimiliki oleh sang ayah atau kakak laki-laki tersebut. Bukan oleh si perempuan yang dinikahi. Lalu Allah melarang hal tersebut dan menurunkan ayat di atas.

Mahar: Tidak Wajib Disebutkan Saat Akad

Mayoritas ulama juga sepakat bahwa pemberian mahar bukanlah bagian dari ritual akad nikah yang menjadi rukun sahnya nikah. Dalam arti, jika akad nikah dilakukan tanpa adanya penyebutan mahar, maka nikah tersebut tetap terhitung sah.

Allah SWT berfirman: Tidak ada kewajiban membayar atas kamu, jika kamu menceraikan isteri-isteri kamu sebelum kamu bercampur dengan mereka dan sebelum kamu menentukan maharnya. (QS. Al-Baqarah 236)

Dalam al-Mausu’ah al-Fiqhiyyyah al-Kuwaitiyyah seperti dipaparkan dalam Fiqih Mahar karya Ustaz Isnan Ansory Lc., MAg., dijelaskan kesepakatan bahwa: Boleh pernikahan dilakukan tanpa adanya penyebutan mahar menurut kesepakatan ulama.

Pertimbangan para ulama mengapa mahar tidak termasuk rukun nikah adalah karena tujuan asasi dari sebuah pernikahan bukanlah jual-beli. Tujuannya adalah melakukan ikatan pernikahan dan juga kehalalan hubungan seksual. Sehingga mahar hanya salah satu kewajiban suami, sebagaimana nafkah, yang tidak perlu disebutkan pada saat akad.

Dalam kitabnya, Raudhah ath-Thalibin wa ’Umdah al-Muftin, Imam an-Nawawi berkata:

Ulama Syafi’iyyah berkata: Mahar itu bukan rukun dalam nikah, berbeda dengan barang yang diperjual-belikan dan uang dalam jual-beli.

Sahkah Pernikahan Yang Tidak Ada Maharnya?

Ulama beda pendapat soal sahnya pernikahan jika mahar ditiadakan dalam sebuah pernikahan. Apakah pernikahan yang tidak ada pemberian mahar oleh suami terhitung pernikahan yang sah atau tidak?

Oleh sebab itu, perlu dirinci terlebih dahulu, terkait alasan tidak ditunaikannya kewajiban mahar dalam pernikahan. Setidaknya ada dalam dua masalah yaitu:

a. Ketiadaan Mahar Sebagai Syarat Pernikahan

Ketiadaan mahar ini merupakan syarat yang diajukan oleh pihak suami untuk diteruskannya pernikahan. Ulama berbeda pendapat apakah akad nikah tetap dinilai sah atau tidak?

Mazhab Pertama: Nikah tetap sah

Jumhur (mayoritas) ulama baik Imam Hanafi, Syafi’i dan Hanbali berpendapat pernikahan tanpa mahar yang disyaratkan tetaplah sah. Alasannya? Mahar bukanlah rukun nikah. Akan tetapi, suami yang tidak memberikan maharnya tetap terhitung berdosa. Sebab mahar merupakan hak istri yang wajib ditunaikan oleh suami.

Dalam kitab al-Muqni’, Imam Ibnu Qudamah al-Maqdisi berkata:

Suami mensyaratkan tidak adanya mahar dan nafkah, maka syaratnya batil dan akad nikahnya tetap sah.

Mazhab Kedua: Nikah batal.

Menurut Mazhab Maliki mahar termasuk rukun nikah, meskipun tidak mesti disebutkan di dalam akad. Melalui landasan ini, pernikahan yang disyaratkan ketiadaan mahar terhitung tidak sah.

Dalam kitab asy-Syarh ash-Shaghir, Imam ad-Dardir al-Maliki berkata: Kesepakatan untuk tidak adanya mahar dapat merusak akad nikah.

b. Kerelaan Istri Untuk Tidak Menerima Mahar

Ketiadaan mahar bukanlah syarat yang diajukan pihak suami, namun kerelaan dari pihak istri untuk tak menerima mahar. Istilahnya adalah nikah tafwidh, di mana pernikahan tanpa mahar yang dilandasi kerelaan istri.

Pada dasarnya ulama sepakat bahwa pernikahannya tetaplah sah. Namun demikian, suami tetap wajib menawarkan sejumlah mahar, yang kemudian istri bisa merelakannya untuk sang suami.

Allah SWT berfirman: .. dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. An- Nisa’: 24)

Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya. (QS. An-Nisa’: 4)

Leave a Reply