‘Mendombakan’ Ustadz

Oleh: Ahmad Rofiqi

Unsplash

Mana yg lebih buruk, adu domba atau adu ustadz?

Para jamaah membuat video viral seorang ustadz menghantam ustadz lain. Jamaah sebelahnya ganti buat video bantahan hantam balik. Lalu di masing-masing video jamaahnya adu komen. Komennyapun dominan kuat-kuatan ngotot, bukan kuat-kuatan ilmiah. Keliatan jamaahnya ngga peduli dg ilmu. Tapi jelas lebih peduli dg fanatisme pada masing-masing ustadznya.

Dg cara provokatif, ustadz dipancing utk menguliti ustadz lain. Isu bisa dicari. Julukan boleh dikarang. Dibuatlah berbagai label ustadz yg dulu tidak kita dengar: Ustadz tidak sunnah, ustadz syubhat, ustadz bid’ah, ustadz tidak syar’i, ustadz wahabi, ustadz aswaja (dg nada negatif), ustadz politik, ustadz dukun, ustadz artis sampai ada istilah ustadz sesat dan menyesatkan…

Jamaah pun terbelah. Muslimpun terbelah. Umat terbelah. Semua jadi saling cela, saling ejek, saling umpat. Tajassus, namimah, ghibah jadi penyemangat forum-forum. Sikap ilmiah ditinggalkan, adab terhadap ilmu, adab kepada ahli ilmu, adab pada sesama muslim, semua dilupakan. Muncullah satu trend baru yg sama sekali tidak lucu, trend semangat belajar agama tapi tidak punya adab. Tak heran, mulailah bermunculan komunitas beragama yg biadab.

Tapi itu belum seberapa. Yg lebih buruk, ketika para ustadz dan dai sendiri yg ikut dalam permainan “adu ustadz” ini. Bukannya mengingatkan, mereka malah menikmati dan gembira dg sorakan jahil jamaahnya. Mereka tdk sadar, terjerumus dlm jebakan cinta buta popularitas, membelah kesatuan umat atas nama dakwah, sunnah dan ilmu. Tentu tak semua ustadz. Ada juga ustadz yg konsisten bersikap santun dan beradab. Salutlah kita pada beliau-beliau itu.

Menjelang 10 akhir Ramadhan ini, dipastikan trend adu ustadz belum berhenti. Mungkin juga tidak akan berakhir.

Jadi, mana yg lebih buruk: Adu domba apa adu ustadz? Ya, pasti buruk semua.

Note: Saya cintai dan hormat pada ustadz-ustadz di gambar ini dan mrk bisa jadi contoh yg baik dlm merespon kritikan. Tentu ustadz yg bisa jadi contoh bukan cuma mereka. Masih banyak lagi yg lain.

Leave a Reply