Kisah Ainun, Pengambil Sampel Darah Pasien Corona

“Pasien suspect corona itu terus terbatuk di hadapan saya. Berdesir hati rasanya. Saya mungkin tidak setakut ini jika saja APD (Alat Pelindung Diri) lengkap saya kenakan. Saya hanya menggunakan masker biasa dan sarung tangan. Diantara cemas yang mencekam saya coba beranikan diri untuk tetap melayani pasien tersebut.” aku Ainun, seorang tenaga laboratorium medis di sebuah rumah sakit.

“Saya begitu mencintai pekerjaan ini hingga tak terasa 10 tahun sudah saya mengabdikan diri.”

Tugas utama dia adalah mengambil sampel darah pasien untuk diteliti. Alhamdulillah berbagai penyakit bisa diketahui dari sampel darah yang diteliti. Dokter akan memberikan tindakan apa yang terbaik setelah mengetahui hasil laboratorium.

“Hingga pada satu malam datanglah pasien yang dirujuk ke ruangan laboratorium tempat saya bekerja. Berkursi roda pasien berusia 60 tahun tersebut diantar keluarga. Kondisinya sungguh memprihatinkan. Pak tua tampak lemah tak berdaya. Ia terbatuk batuk tiada henti.

Hati saya berdesir dibuatnya. Terus terang saya miris, namun saya juga takut menghadapinya. Tidak seperti biasanya saya bisa ketakutan seperti ini.
Dari gejala klinis diduga kuat pasien malang ini adalah suspect corona.

Kawan sejawat saya juga sempat mengingatkan untuk berhati-hati, terlebih hasil rontgen didapati kondisi paru paru pasien sudah hampir seluruhnya memutih.

Saya mungkin tidak setakut ini jika saja APD (Alat Pelindung Diri) lengkap saya kenakan. Saya hanya menggunakan masker biasa dan sarung tangan.

Diantara cemas yang mencekam saya beranikan diri untuk tetap melayani pasien tersebut. Namun ketika hendak saya ambil sampel darahnya, pasien yang masih terbatuk batuk ini badannya kejang kejang.

Saya tidak berani melanjutkan, segera saya kembalikan pasien ke IGD untuk ditangani. Tidak sampai sepuluh menit di IGD , Pasien suspect Corona ini menemukan ajalnya, Innalillahi wa innailaihi rojiun.

Malam itu saya terus terbayang wajah si bapak hingga tidak bisa tidur. Hingga sekarang saya masih suka stres kalo lagi ingat bagaimana si bapak terbatuk tiada henti di hadapan saya.

Ya, saya pasti takut terpapar Covid 19 juga . Yang lebih menakutkan lagi saya bisa jadi akan menularkan ke keluarga saya dan orang lain.

Keluarga meminta saya untuk berhenti bekerja karena risiko dan fasilitas Rumah sakit bagi tenaga medis dan paramedis terbatas. Soal Fasilitas APD memang sangat terbatas. Masker biasa saja terkadang kami harus beli sendiri untuk melindungi diri.

APD gimana? jangan tanya deh, kami hanya menggunakan baju seperti celemek pedagang daging di pasar. Mungkin itu yang membuat keluarga saya khawatir.
Namun saya tidak bisa mundur dari pekerjaan ini. Ini bukan tugas biasa, ini adalah panggilan tugas kemanusiaan.

Bayangkan jika semua tenaga medis mundur dari pekerjaan bagaimana nasib korban wabah Corona?

Meski beresiko saya bersama kawan kawan bertekad akan tetap berada di garis depan melawan wabah Corona. Doakan dan dukung kami ya sahabat.”


Banyak Ainun Ainun lain yang begitu tegar namun rentan menghadapi ganasnya wabah corona. Kita tidak bisa diam !
sahabat yuk kita bersama bantu perjuangan mereka.

Kirimkan donasi terbaik kita
Ke rekening Yayasan Sinergi Sahabat Surgawi
BSM 7771717197

Konfirmasi :
Angga 08121082009
Viandi 081908199159

Semoga Allah membalas kebaikan sahabat dengan sebaik-baiknya balasan Aamiin

Leave a Reply