Jawaban Rocky Saat Ditanya Kematian Oleh UAS

Pendakwah Ustaz Abdul Somad (UAS) mengajukan pertanyaan tentang kematian kepada Rocky Gerung. Diketahui Rocky beda keyakinan dengan Rocky.

“Bung Rocky, ada masanya berbunga, ada masanya harum semerbak, tetapi kemudian ada masanya layu dan kemudian mati. Bagaimana orang filsafat melihat kematian?” kata UAS dalam tayangan YouTube resminya.

Oposan pemerintah itu menjawab bahwa orang filsafat tidak bisa lihat kematian. Orang filsafat menganggap, kematian itu adalah sama misterinya dengan kehidupan.

Ia menyebut ada namanya filsafat epikorus, bikin poin bahwa waktu kita hidup kita tidak mati, waktu kita mati tidak hidup.

“Jadi, itu dua kualitas yang tidak perlu diperbandingkan. Agama punya point of view yang lain bahwa kematian itu adalah penundaan dari harapan. Harapan itu, hanya bisa kita peroleh dengan melewati fase kematian. Jadi, ada politics of hope di dalam kematian,” kata Rocky.

Kehidupan, kata dia, adalah politics of memory. Memori itu coba kita hentikan supaya kita punya hope. Namun, sebetulnya kalau di dalam ilmu pengetahuan yang lebih positivistik, menanyanakan kematian itu tidak layak ditanyakan kepada orang hidup. Sebetulnya, jalan pikirannya kan.

Sama sepertinya orang bertanya tentang biodata Rocky Gerung untuk sebuah seminar. Ketika ditanya, Rocky menjawab bahwa biodata itu baru lengkap kalau orangnya meninggal. Kalau masih hidup biodatanya masih bertumbuh. “Jadi, ngapain minta biodata karena saya masih bernapas,” ujarnya.

“Begitu saya tulis, biodata berubah, karena saya diundang ngomong dengan Ustaz Somad, bahwa saya bicara dengan ustaz, saya enggak bisa tambahin di situ (di biodata) karena saya masih hidup,” tambah Rocky.

Contoh lainnya, menurut Rocky, dulu ada seorang sosiolog yang ditanya oleh wartawan. Jika sosiolog itu meninggal, ingin dikuburkan dengan cara apa dan di mana, dan dengan cara apa. Lalu, dijawab oleh sosiolog itu, sebaiknya para wartawan menanyakan kepada jenazahnya kelak.

“Jadi, pertanyaan tentang kehidupan nanti itu adalah pertanyaan untuk si mati. Kalau orang hidup itu hanya menggambar kenikmatan hidup nanti, ada kebahagiaan,” tutur Rocky.

Selain itu, menurut Rocky, teologi dan filosofi itu bersahabat baik. Karena, teologi menggambarkan kehidupan pascakematian nanti dalam format dalam keadaan yang indah. Sementara filsafat, merasionalisasi dan mengkritik secara rasional jalan pikiran itu. “Jadi, kematian itu tema bersama teologi dan filosofi,” tegasya.

Leave a Reply