Hukum Zakat Fitrah dengan Uang dan E-Money

Zakat fitrah diwajibkan kepada siapa saja yang mendapatkan akhir Ramadan dan awal syawal; Laki perempuan, besar kecil, tua, muda maupun anak-anak, merdeka maupun budak.

Bagi anak-anak maupun istri, kewajiban ada di tangan suami atau kepala rumah tangga.

Seseorang wajib mengeluarkan zakat fltrah kepada siapa yang wajib dia nafkahi.

Lalu dengan apa zakat fitrahnya?

Pendakwah Ustaz Abdullah Haidir Lc menjelaskan bahwa jumhur (mayoritas) ulama (Mazhab Maliki, Hambali dan Syafii) berpendapat bahwa zakat fitrah harus dikeluarkan dalam bentuk makanan pokok, seperti; kurma, gandum atau beras. Tidak boleh dengan uang senilainya.

Ulama dalam kalangan Hanafi berpendapat bahwa zakat fitrah dapat dikeluarkan dalam bentuk uang seharga ukuran yang ditetapkan. Mereka berlandaskan dengan maqashid syariah (tujuan syariat zakat fitrah) yaitu memberikan kecukupan kepada kaum fakir agar tidak minta-minta pada hari Id.

Muncul beberapa pertanyaan sebagai berikut:

  1. Mayoritas ulama berpandangan bahwa zakat fitrah harus dengan bahan pokok.

Sementara mayoritas umat Islam Indonesia bermazhab Syafii. Bagaimana pandangan Ustaz jika ada yang menggunakan uang?

“Cukup pahami dan maklumi perbedaan yang ada dengan latar belakangnya,” kata Ustaz Abdullah Haidir ketika dihubungi Paramuda.id pada Sabtu (16/5/2020).

Perkara seseorang memilih salah satu pendapat, kata dia, silakan saja.

“Bukan soal ini saja mazhab kaum muslimin indonesia tidak memakai pendapat dalam mazhab Syafii…. ada beberapa masalah lainnya juga,” ujar dia.

  1. Jika boleh, bagaimana mengukur besarannya (konversinya)?

“Konversinya tinggal dihitung saja harga besar berapa per 3 kg, atau per 2,5 kg,” ungkap Ust Haidir.

  1. Saat ini adalah era cashless, bagaimana jika ada yang menggunakan e-money?

“Tidak mengapa, asalkan uangnya tepat sasaran kepada yang berhak dan saat ditransfer sudah diniatkan sebagai zakat fitrah,” kata Ustaz Abdullah Haidir.

Leave a Reply