Fikih Kurban

Istilah kurban dalam kitab-kitab fikih klasik (kitab kuning) kurang dikenal. Yang dikenal adalah udhiyah الأضحية.

Intinya sih sama saja. Yaitu; Hewan dgn jenis tertentu yang disembelih dgn niat ibadah pada tanggal 10 sampai tgl 13 Zulhijah. Tentu dgn syarat dan ketentuan yg berlaku.

Syariat kurban sangat jelas dan kuat kedudukannya dalam syariat Islam. Ditunjukkan dlm Al-Quran, hadits dan ijmak para ulama.

Firman Allah Taala, “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2)

Dalam hadits, banyak riwayat yang menunjukkan anjuran dan ajaran kurban, bahkan Rasulullah saw melakukan penyembelihan terhadap kurbannya. Diriwayatkan bahwa sejak syariat kurban diberlakukan tahun 2 H, Rasulullah saw selalu berkurban setiap tahun hingga wafat.

Namun demikian, para ulama berbeda pendapat ttg status hukum kurban, apakah sunah atau wajib. Jumhur (mayoritas) ulama menyatakan bhw kurban adalah sunah muakadah (sunah yg sangat ditekankan). Sedangkan ulama mazhab Hanafi berpendapat bahwa kurban itu wajib bagi yg mampu.

Apa sih spirit berkurban? Perlu dipahami bahwa syariat kurban bukan sekedar bagi2 daging hewan kurban. banyak spirit dan pelajaran yang terkandung di dalamnya. Memahaminya akan semakin mendorong motivasi kita utk berkurban dan menghidupkan nilai2nya dalam kehidupan;

Pertama; Berkurban adalah refleksi ketaatan dan ketundukan mutlak kepada Allah. Hal ini tentu erat kaitannya dgn kisah Nabi Ibrahim dgn puteranya Ismail yg menjadi latar belakang syariat kurban. Karenanya, spirit inilah yg harus kuat melandasi tujuan kita dalam berkurban

Sebab yg sampai kpd Allah bukanlah darah dan daging hewan kurban, tapi ketakwaan kita kepadaNya;

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS. Al-Haj: 37)

Kedua; Berkurban adalah refleksi tauhid dan keimanan yg murni kepada Allah. Kaum musyrikin pada zaman dahulu (juga sekarang) di antara wujud ritual yg sering mrk lakukan utk tuhan2 mereka adalah menyembelih hewan utk mrk persembahkan kpd tuhan mereka.

Ini merupakan kesyirikan yg sangat dibenci dalam ajaran Islam. Karenanya hewan sembelihan spt itu (disembelih utk selain Allah) disamakan kedudukannya dgn makanan yg diharamkan spt darah, bangkai atau daging babi (Al-Baqarah: 173).

Nah, berkurban sebaliknya. Hewan yg kita sembelih sudah kita niatkan sbg persembahan dan penghambaan kita kpda Allah. Inilah realisasi tauhid yang utuh kepada Allah, bukan hanya sekedar klaim, tapi penghambaan kdp Allah semata yg terwujud dlm keyakinan, ucapan maupun perbuatan.

Ketiga; Berkurban adalah realisasi syukur atas nikmat Allah yg banyak. Surat Al-Kautsar ayat 2 yg menjadi landsan syariat kurban, didahului firman Allah yg menerangkan kpd Nabi saw bhw Dia telah memberinya nikmat yg sangat banyak. Maka realisasi syukurnya; Shalat dan berkurban.

Terkadang kita merasa berat berkurban, karena keluarkan uang sebesar 2-3 juta, walaupun mampu, terasa amat banyak. Padahal nikmat yg sudah kira rasakan tiada terkira. Kalau kita resapi nikmat Allah yg tak terkira harganya, insyaAllah kita akan semakin mudah berkurban…

Keempat; Berkurban adalah refleksi dari pengagungan terhadap syiar Allah. Syiar Allah adalah ajaran2 Allah yg tampak dan terlihat. Berkurban termasuk syiar Allah. Dgn menghidupkan syariat kurban, akan tampak pengagungan kpd Allah yg disembah melalui hewan2 yg disemblih karenanya.

Pegagungan thd syiar Allah, dinyatakan dlm Al-Quran sebagai tanda ketakwaan dlm hati;

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al Haj: 32)

Oleh: Ustaz Abdullah Haidir Lc.

Leave a Reply