Dunia Buku yang Terancam Tutup Buku

Dampak covid-19 menghantam berbagai lini kehidupan, termasuk industri buku

..yang sebenarnya sudah oleng sebelum pandemi.

Setidaknya ada 61 toko buku Gramedia tutup.

maka rata-rata para penerbit mengalami penurunan penjualan dari 40-70 persen sejak Maret 2020.

Perampingan pekerja buku pun dilakukan.

“Jadiii… mulai 1 Mei lalu, saya resmi tidak bekerja lagi di Noura,” tutur Rahmadiyanti, Marcomm penerbit Noura (grup Mizan) melalui media sosial.

Lalu bagaimana dengan penulis buku? Simak wawancara dengan penulis buku “Dilarang Miskin di Kampung Ini” Riza Almanfaluthi.

Dulu anda pernah menerbitkan buku di penerbit mayor, apa yang benar-benar anda rasakan pahitnya dengan industri ini?

Jadi memang waktu itu di tahun 2013 ada penawaran

kemudian tahun 2012 diserahkan kepada penerbit mayor cuma memang tidak tahu kelanjutannya

tiba-tiba tahun 2015 muncul di google playbook dalam bentuk e-book jadi kita tidak mendapatkan cetakannya.

Kok seperti ini penerbit mayor, gitu ya.

Jadi akhirnya ya, ini menyebabkan saya tidak punya rencana lagi untuk menulis buku, itu cukup menulis di grup saja.

Lalu kenapa sekarang memilih jalur Indie?

Nah itulah, jadi memang kebetulan pada saat itu yang menangani penerbitan buku pertama saya adalah Mas Iqbal.

Mas Iqbal ini masih intens berhubungan dengan saya, kemudian dia keluar dari penerbit mayor tersebut.

Dia membuat penerbitan Indie.

saya bertemu dengan dia, saya tahu kalau dia membuat penerbitan indie ketika saya menyimpan nomor whatsapp-nya.

dan dia membuat status di whatsapp-nya tentang buku-bukunya.

akhirnya saya tertarik untuk membuat buku gitu, menerbitkan di penerbit indie.

Ya karena mendapatkan pengalaman pertama tadi yang di penerbitan mayor tidak menyenangkan jadinya saya ke penerbit indie.

dan di penerbit indie itu saya jadi tahu dari awal sampai akhir bagaimana pengelolaannya terutama dalam hal pemasarannya.

Buku terbaru anda terbit tepat di masa pandemi, bisa ceritakan?

Ya, jadi ini sebenarnya buku dirancang disusun pada bulan Oktober 2019.

waktu itu ditanyakan oleh temen saya sudah menerbitkan buku belum?

Padahal saya sebenarnya sudah menerbitkan buku pertama gitu, tapi belum juga buku kedua

Akhirnya saya berpikir kayaknya memang perlu nih saya menerbitkan buku kedua

Akhirnya ketemu dengan Mas Iqbal yang Maghza Pustaka itu, pemilik penerbitan indie itu.

Akhirnya saya cuma dalam jangka waktu satu bulan menyelesaikannya, kemudian saya menyerahkan naskah itu di penerbit indie Maghza Pustaka.

Akhirnya disusun jadwal kapan terbitnya, akhirnya sekitar bulan Februari.

Pertengahan februari buku ini terbit dan hingga kemudian ditetapkanlah masa pandemi ini.

mulai bulan Maret sampai April sampai sekarang itu, buku ini sudah cetakan ke lima.

walaupun masa pandemi tapi sudah cetakan kelima.

itupun sebenarnya pemasarannya hanya di lingkungan komunitas terkecil.

artinya komunitas yang saya ikuti, komunitas-komunitas kantor, komunitas-komunitas olahraga, komunitas-komunitas keagamaan.

pemasarannya dari mulut ke mulut, bisa saya sampai cetakan ke lima ini.

Yang patut disadari bahwa memang di penerbitan indie itu semuanya harus dilakukan sendiri oleh kita.

Jadi tidak bisa mengandalkan orang lain.

Leave a Reply