Anak Mantan Menteri Buka-bukaan Soal Azab Wuhan

Mantan Menteri

Anak mantan menteri Tifatul Sembiring, Fathan Sembiring menanggapi soal tudingan Coronavirus di Wuhan adalah azab.

Berikut jawabannya:

Kalau ngomongin azab sebenarnya bukan kapasitas saya pribadi sebenarnya.

Yang kedua itu terlalu terburu-buru ya. Karena kalau mislakan kita melihat keseluruhan kehidupan manusia di Cina termasuk yang bergama muslim atau beragama lainnya sebenarnya dinamikanya banyak.

Kalau kita hanya melihatnya dari perspektif atau kabar-kabar yang waktu itu membahas tentang muslim Uighur atau misalkan di provisi xinjiang seperti apa.

Itu bukanlah representasi dari keseluruhan dari apa yang muslim Tiongkok hadapi perlu kita ingat juga bahwa di Tiongkok atau Cina itu yang namanya muslim itu kan bukan muslim lokal saja, bukan muslim Uyghur saja, bukan muslim suku Han saja, atau muslim suku Hui saja atau suku-suku mereka yang lain yang ada puluhan itu
tapi tentu saja dari rekan-rekan sejawat yang berbangsa Indonesia.

Teman-teman yang masih kuliah disana, yang masih studi disana itu kan banyak yang muslim yang dari negara-negara afrika, yang dari negara-negara pakistan, dari negara-negara malaysia, dari negara-negara muslim lainnya itu kan juga ada disitu.

Nah kalau dari saya pribadi kalau kita ngomongin azab saya tidak tertarik untuk membahas itu
karena dari apa yang saya dan rekan-rekan temui di sana
bahwa makanan halal ada
bahkan disetiap kampus yang ada mahasiswa muslimnya.

Itu diwajibkan oleh pemerintah memiliki satu meja kantin atau satu jendela kantin yang dia itu halal.

Kokinya halal bukan?

Baca Juga : Mengapa Tifatul Kuliahkan Anaknya di China?

Ya halal. Gimana cara tahunya? ya kita ngetes, kita ngomong. Makanya alhmadulillah kita bisa bahasa mandarin kita bisa berkomunikasi.

Ini benar nggak sih ini muslim, jangan jangan cuma pakai kopiah jenggotnya dipanjangin, nggak

Ya alhamdulillah halal. Walaupun kita tau sendiri lah, kalau dibandingkan rasa maskaan kantin dan masakan luar di resto yang halal itu jauh berbeda.

Tapi itu kan nggak jadi mengapa, karena itulah yang menjadi kemudahannya yang kedua, kemudahan disini yang ini saya sharing juga adalah kemudahan dalam masalah ibadah  

Masjid di Beijing itu banyak ada sekitar 34 atau 35 an kayak gitu ya, itu yang aktif alhamdulillah.

Teman-teman atau kami itu biasa mengadakan kunjungan-kunjungan seperti itu

Kita berdialog dengan kalau di Cina itu Imam kita sebutnya dengan Ahong.

Ahong itu islam, warga Cina lokal yang dianggap ustadz atau misalkan yang dianggap marbot

Nah itu mereka kebanyakan tinggal di Masjid.

Nah kita biasa dialog dengan mereka walaupun memang mungkin ada pembatasan-pembatasan, tapi nggakpapa lah yang penting kita bisa komunikasi

Melihat apa yang dikabarkan di media-media di Indonesia khususnya, dengan apa yang terjadi disana

Menurut kami banyak gap nya, banyak jurang pengetahuan yang perlu ditelaah lebih lanjut, pelu dikaji lebih lanjut sehingga kami jangan loncat ke kesimpulan-kesimpulan yang tidak jelas.

Perlu diketahui juga di Tiongkok atau di Cina dengan besaran daerah atau jumlah populasi yang sebanyak itu.

Untuk media itu hanya ada 1 dari Antara news. Ini saya bisa berani bilang begini seperti pebandingannya adalah
kalau teman-teman melihat media yang lain, atau yang tidak memiliki wartawan atau jurnalis yang diposting permanen di Cina
itu akan sangat berbeda nadanya, akan sangat berbeda ulasannya, akan sangat berbeda analisisnya

Kenapa?

Karena akan beda ya, maksudnya apalagi aklau kita berinteraksi misalkan dengan warga kita sendiri, kita mau tau kondisi RW sebelah atau RT sebelah

Kalau kita nggak ada di lokasi tersebut otomatis kan kabar kabar bisa bermacam-macam
jadi analoginya seperti itu, jadi media disana hanya satu

Leave a Reply